Ajakan Andreas Adoe untuk melewatkan weekend kali ini dengan ber-treking ke Jembatan Akar – Batara langsung aku tanggapi positif. Setelah 2 kali mengikut perjalanan ke Baduy Dalam (Cibeo) pada 2004 lalu bersama rombongan NaTrekk dan Andrey Acorbusie, justru aku belum pernah mengunjungi Jembatan Akar yang konon kabarnya eksotik dan unik itu.
Hari ke-1
Sesuai kesepakatan, pada Sabtu 11 Maret 2006 sekitar jam 8 pagi kami berkumpul di Stasiun Tanah Abang. Takut mendapat julukan “Miss Late”, segera kupacu diriku menuju meeting point dan di sana sudah hadir lebih dahulu antara lain; Hany, Yadi, Keke dan Kadek. Dimanakah Andreas….??? Ternyata sang penggagas saat itu belum datang dan baru sekitar jam 8:20, muncullah dia. *huuuu…..padahal kemarin dia bilang kalo kami harus kumpul jam 7:30*. Dari 10 orang yang menyatakan ketertarikan untuk bergabung ternyata hanya 6 orang inilah yang confirm dan menyetorkan wajah-wajahnya. J
Demi kenyamanan, keamanan dan kecepatan, kami memutuskan mengambil gerbong kelas bisnis seharga Rp. 12.000,-/orang (untuk anak-anak Rp. 10.000,-) menuju Rangkas Bitung dengan jadwal keberangkatan pada jam 09:10.
Setelah mendapatkan bangku yang nyaman, (aku, Hanny, Keke dan Yadi duduk saling berhadapan, sedangkan Andreas dan Kadek duduk di bangku sebelah), kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun Tanah Abang. Sepanjang perjalanan, seperti biasa, kelompok kamilah yang paling ramai, dari mulai saling berceloteh, foto-foto, berdebat masalah RUU Pornografi dan Pornoaksi, baca puisi sampai orasi. Saking ributnya sampai ada seorang ibu menegur kami karena tidak bisa tidur, terganggu celotehan dan aksi kami. *uuuups pada bandel niy, kek kereta punya sendiri ajah. :D*
Sayangnya, niat kami supaya cepat sampai di Rangkas Bitung tidak mendapat dukungan dari PT KAI karena kereta yang kami tumpangi tiba-tiba mengalami kerusakan di Stasiun Maja pada sekitar jam 11:19 sehingga kami harus keluar gerbong dan menunggu kereta berikutnya. Tidak mau gambling dengan jadwal berikutnya, maka kami menerima tawaran satu keluarga untuk men-charter angkot menuju Rangkas Bitung dan per orang dikenakan ongkos Rp. 5.000,-. Yah, lumayanlah daripada telat.
Jam 12:30 tibalah kami di Rangkas Bitung, langsung menuju pasar dan menyerbu Rumah Makan Padang. Setelah itu rombongan dibagi tiga; Aku dan Yadi ke mushola untuk sholat, Andreas dan Kadek berbelanja perbekalan, sedangkan Hany mengantar Keke membeli handuk, dan setelah semua selesai dengan urusan masing-masing diwajibkan berkumpul di Indomaret dekat Pegadaian. Setelah lengkap, rombongan bergegas menuju terminal dan menaiki angkotan Elf jurusan Rangkas Bitung - Ciboleger.
Namun niat kami supaya cepat sampai tujuan lagi-lagi terhambat karena sang supir tidak mau berangkat sebelum penumpang penuh. Alih-alih segera berangkat dia malah menghimbau agar kami mau menambah ongkos, tentu saja ajakan itu kami tolak karena sudah lebih dari ½ jam menunggu, dan kami memutuskan untuk membayar ongkos normal yaitu Rp. 10.000,-/orang. Andreas paling merasa tidak nyaman mengingat teman-teman Baduy sudah siap menjemput di Ciboleger sejak jam 13:00 tadi. Hujan deras yang mengguyur kota Rangkas Bitung dan sekitarnya semakin melengkapkan “kepedihan” kami. Hiks….. L
Beruntunglah kami punya Kadek yang rajin bernyanyi (walaupun lagu jadul) dan membacakan cerita-cerita dari buku sehingga dapat menghibur hati yang kesal. Tapi tidak beruntung bagiku dengan adanya Andreas dan Yadi (terutama Andreas) saat itu karena mereka terus-menerus menggangguku yang berniat memejamkan mata untuk menghilangkan penat karena kurang istirahat semalam. *sibuk syuting siiiiiy…….*
Setelah menunggu sekitar 1 jam lewat diselingi perdebatan beberapa kali dengan Pak Supir *kalo jalan kaki dah nyampe kaliiii…*, akhirnya bergeraklah angkot kami meninggalkan Rangkas Bitung. Hujan yang lumayan besar dan infrastruktur yang tidak baik menyebabkan ruas-ruas jalan tergenang air hingga setengah betis. Karena mengejar waktu, Pak Supir mengemudikan angkot dengan ngebut ditambah jalanan yang yang tidak rata serta berkelok semakin membuat aku sulit tidur, bahkan Hany sampai harus menelan antangin untuk menghilangkan pening, maka daripada tidak bisa tidur kamipun berceloteh dan bernyanyi sambil menikmati pemandangan indah di kiri-kanan jalan.
Jam 17:22 akhirnya angkotan Elf tiba di Ciboleger. Benar saja, begitu kami turun, aku melihat sosok wajah yang sudah aku kenal keluar dari warung makan tempat kami biasa bertemu. Segera aku lambaikan tangan agar dia tahu bahwa yang ditunggu sudah tiba. Naldi, yang tadi lebih dahulu keluar kemudian turun menjemput dan mengantarkan kami menemui teman-temannya di warung. Disana ada Jasrip, Aldi, Sarip dan Pak Karta. Kami terharu dengan kesetiaan mereka menunggu padahal sudah lewat jauh dari jam perjanjian. Setelah perkenalan singkat dan istirahat sejenak, sekitar jam 17:30 rombongan kecil ini memulai petualangan ke tanah Baduy. Namun sebelum melangkah lebih jauh kami mampir dulu ke rumah Jaro untuk melaporkan kedatangan kami dan membayar biaya retribusi secara sukarela.
Sepanjang jalan aku resapi baik-baik keadaan di sekitar, mengingat kembali perjalanan pertamaku ke sini pada 3-5 Juni 2004 lalu yang saat itu rombongan berjumlah 50 orang, lalu perjalanan kedua pada akhir Agustus 2004 yang hanya berjumlah 9 orang. Kedua perjalanan tersebut dan sajian pemandangan yang aku lewati amat berkesan bagiku.
Aku banyak bertanya tentang teman-teman Baduy yang aku kenal tapi tidak ikut menjemput kali ini, tentang kabar mereka, kesibukan mereka, apakah sudah menikah, apakah sudah punya anak, dll. Demikian pula teman-teman yang menjemput ini, menanyakan kabar teman-teman kami yang mereka kenal tapi tidak ada dalam rombongan.
Entah karena sudah mengenali ‘medan’, entah karena 2 minggu lalu sudah trekking dan hiking ke Gunung Padang, meskipun kondisi tanah saat ini becek dan licin setelah diguyur hujan lebat tadi, perjalanan ke Desa Gajeboh kali ini tidak terlalu menyulitkanku, tidak seperti ketika pertama kali aku datang ke sini, heheeee….
Oya, seperti biasa, meskipun matahari sudah mulai redup dan langit sedikit mendung namun tidak lengkap rasanya kalau berjalan tanpa dihiasi berfoto-foto. Maka di beberapa objek yang bagus kami berhenti dulu untuk mengambil foto.
Sekitar jam 18:15 kami tiba di Desa Gajeboh (Baduy Luar) dan langsung menuju rumah Kang Arsid yang sebenarnya siang tadi ikut menjemput di Ciboleger tapi karena keterlambatan yang sangat ‘signifikan’, terpaksa dia kembali lebih dulu.
Yang pertama membersihkan diri para peserta cowok, sedangkan cewek-cewek masih sibuk bebenah dan ngobrol dengan teman-teman Baduy. Tapi karena dirasakan lama sekali para cowok itu mandi maka waktu menunggu diisi dengan foto-foto narsis di depan lampu tempel yang hasilnya lumayan mencengangkan. Setelah para cowok kembali, gantian para cewek yang membersihkan badan, dan ketika kembali ke rumah, ternyata makan malam sudah disiapkan oleh tim cowok. *Naaah……gitu dwonks, emansipasi…heheheee…*
Obrolan setelah makan malam dihiasi dengan pergelaran barang-barang kerajinan khas Baduy, seperti kain, baju, selendang, tas, gelang, tempat HP, dll. Kami semua berbelanja tapi yang paling kalap adalah Keke, karena dia yang paling banyak membawa uang saku. :p.
Menjelang tidur, lagi-lagi para cowok keluar rumah. Kali ini dengan perlengkapan foto lengkap karena ingin mengabadikan malam terang bulan di Baduy. Memang benar, malam itu langit terang, sama terangnya seperti ketika kami tiba saat maghrib tadi, padahal di Desa Gajeboh ini penerangan minim sekali, di dalam satu rumah saja hanya ada satu lampu tempel bahkan di beberapa rumah tanpa penerangan sama sekali karena penghuninya sudah tidur. Apalagi di luar rumah, sama sekali tidak ada penerangan. Maka, merupakan suatu hal amat disayangkan apabila malam terang bulan ini dilewatkan begitu saja.
Menjelang jam 23:00, barulah mereka kembali ke rumah dan segera merebahkan diri. Walaupun lelah ternyata beberapa dari kami terbangun di tengah malam karena udara dingin menggigit sehingga kami harus memakai jaket dan selimut, padahal setelah makan malam tadi kami memperkirakan udara bakal panas loh.
Hari ke-2
Jam 5 subuh kami dibangunkan oleh bunyi alarm dari beberapa HP. Aku dan Yadi bergegas bangun karena harus sholat subuh, sedangkan yang lain mulai bebenah dan mandi. Pagi ini giliran para cewek yang harus menyiapkan makan. Menunya tidak berbeda jauh dengan menu semalam; nasi putih, mie instant dan abon sapi, plus tumis kornet, duduk ngeriung bersantap bersama teman-teman Baduy.
Jam 07:00 kami siap dan pamit kepada Kang Arsid dan istrinya. Sebenarnya jam 07:00 adalah jadwal kami menuju Jembatan Akar, tapi karena masih ingin berfoto ‘keluarga’ di depan rumah dan di jembatan bambu yang merupakan ciri khas Gajeboh, maka perjalanan ditunda sampai 07:30. Ketika menuju jembatan bambu kami bertemu dengan 2 rombongan yang berlainan, satu rombongan dari Serang dan satu lagi dari Jakarta juga. Tapi nampaknya mereka tidak bisa lanjut ke Baduy Dalam karena menurut teman-teman Baduy, saat itu Baduy Dalam sedang tertutup untuk orang luar karena sedang ada acara Kawalu. (menurut Herman, salah seorang teman Baduy yang bertemu di jalan, kawalu itu semacam lebarannya orang Baduy).
Puas berfoto ria di jembatan bambu, kami mulai bergerak menuju Jembatan Akar…….
Perjalanan kami lakukan ke arah perbukitan dari sebelah kiri rumah Kang Arsid. Mula-mula, jalan yang dilalui bisa ditempuh dengan mudah walaupun banyak tanjakan, karena selain tenaga masih banyak ditambah lagi sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang indah-indah. Namun makin lama perjalanan ini jadi melelahkan karena medan yang lebih banyak menanjak, atau curam menurun, matahari yang bersinar terang dan perbekalan minum yang minim (bahkan karena takut lecet, di beberapa tempat aku melepaskan sandal gunungku dan berjalan telanjang kaki merasakan kelembutan dan kesejukan tanah). Namun karena pemandangan yang indah, tekad kami yang kuat serta kesabaran, hiburan dan bantuan dari teman-teman Baduy yang bertindak sebagai porter sekaligus guide, membuat kami memacu diri supaya lekas sampai di Jembatan Akar.
Ada sebuah desa yang kami lewati bernama Desa Ciwaringin. Desa ini sungguh bersih, teratur rapi dan unik. Sungguh indah dan mengagumkan di tengah hutan dan perbukitan. Namun desa ini senyap dan sepi sekali, tak ada seorang penghunipun terlihat walaupun suara kami lumayan ramai, yang kami temui hanya ayam-ayam ternak di halaman rumah. Rupanya seperti yang kami jumpai sepanjang perjalanan ini, semua penghuni pergi ke ladang (huma) karena saat itu sedang musim potong padi bahkan di beberapa tempat kami jumpai padi-padi yang sedang dijemur. Oya, di daerah Baduy ini, padi-padi tidak ditanam di sawah tapi ditanam di ladang dan tidak memerlukan banyak air (kalau di Jawa dinamakan padi gogo).
Setelah melewati desa Ciwaringin, jalan setapak yang kami lalui semakin memerlukan tenaga dan konsentrasi lebih karena menurun tajam dan licin (sinar matahari tidak mampu menembus daerah ini karena rimbunnya pepohonan). Beberapa dari kami ada yang terjatuh dan harus jalan merosot agar tidak terjerembab. Lepas dari jalanan itu kami bertemu aliran sungai dimana kami bisa beristirahat sejenak, mendinginkan dan membasuh kaki yang terkena Lumpur. Bahkan Kadek bisa melakukan meditasi ringan.
Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan di atas bebatuan menyusuri sungai. Lalu naik menuju Desa Batara. Keadaan di desa ini juga sunyi senyap. Karena perjalanan yang ditempuh tinggal sebentar lagi (menurut ukuran teman-teman Baduy), maka kami pacu semangat agar lekas sampai di Jembatan Akar.
Dari ketinggian sudah terdengar deru air yang menandakan aliran sungai yang besar dan deras. Setelah berjalan sekitar 20 menit, tibalah kami di JEMBATAN AKAR…….jembatan yang selama ini banyak didengungkan oleh teman-teman yang sudah lebih dulu mengunjunginya.
Kenapa dinamakan Jembatan Akar??? Karena jembatan ini terbuat dari akar pohon yang ada di sisi kanan dan kiri sungai. Saking panjangnya akar kedua pohon tersebut sehingga melilit dan menjadikannya sebuah jembatan untuk menyebrangi sungai ini. Dasar jembatan itu sendiri terbuat dari bambu yang ditata dan diikat sedemikian rupa sehingga bisa dilalui para penyeberang namun pegangannya terbuat dari akar kedua pohon tersebut.
Seperti yang sudah dapat diduga, kami memuaskan diri berfoto di jembatan akar ini dengan berbagai macam pose. Setelah itu, kami turun ke sungai dan menceburkan diri di air yang sejuk segar. Kadek adalah peserta pertama yang berenang di sungai dan memamerkan berbagai gaya renang, termasuk gaya mengambang dan balet air, diikuti Andreas, Keke, Yadi dan teman-teman Baduy. Tetapi Hany memilih merebahkan diri di ujung jembatan ditemani sejuknya hembusan angin, dan aku turun ke bebatuan yang ada di pinggir sungai, rebahan di atasnya, ditemani sepotong permen lollipop, dan menyaksikan teman-teman lain yang asyik berenang di sungai.
Sebenarnya belum puas kami bercengkrama di sana mengingat perjalanan yang lama dan melelahkan. Namun karena saat itu waktu sudah menunjukkan jam 12:30, terpaksa kami harus berkemas dan kembali ke Desa Ciboleger agar tidak ketinggalan angkotan Elf (jadwal terakhir antara jam 14:00 – 15:00).
Untuk menuju Desa Ciboleger kami melalui jalanan yang berbeda. Setelah mengunjungi jembatan akar, bukan berarti perjalanan menjadi ringan, tetap terasa berat karena dahaga dan panggangan sinar matahari. Beruntunglah ketabahan dan kesabaran kami dijawab oleh Tuhan, karena kemudian kami tiba di sebuh desa dan bertemu dengan satu-satunya warung di situ. Segera air mineral (dengan merek antah barantah) dan pisang goreng kami serbu dan nikmati sepuasnya.
Mengingat perjalanan yang masih jauh sedangkan waktu sudah mepet, para cewek memutuskan untuk menyewa ojek, meskipun kami sadar akan terguncang-guncang di atas jalanan bebatuan, tapi itu lebih baik dan lebih cepat daripada trekking di bawah terik matahari.
Hany naik ojek sendiri sedangkan aku berdua Keke. Beberapa kali Keke harus turun karena jalanan yang menanjak tajam dan ojek tidak mampu naik dengan beban berat. Ketika melewati teman-teman Baduy yang lebih dulu berangkat dari warung, Sapri berusaha mengejar kami, seperti tidak rela harus berjalan berpisah dengan kami. Maafkan kami Sapri…..habis bagaimana lagi, fisik dan waktu tidak memungkinkan. L
Jam 14:05 tibalah kami di Desa Ciboleger, dan sebuah angkotan Elf sedang mengetem menunggu penumpang. Ternyata itu adalah angkot dan supir yang sama dengan yang kemarin kami naiki. Aku langsung bernegosiasi waktu dengan pak supir karena teman-teman yang lain masih dalam perjalanan. Dan waktu yang disepakati adalah jam 15:00.
Kami segera menuju warung makan kemarin. Keke dan Hany langsung makan siang sedangkan aku memilih membersihkan diri dan sholat. Ternyata kedatangan kami yang naik ojek dengan teman-teman Baduy yang berjalan kaki hanya berselisih kurang lebih 15 menit. Amazing…!!!! Di bawah sinar matahari yang memanggang, dengan membawa barang-barang kami serta rasa lapar dan dahaga, mereka tetap dapat berjalan cepat, ck..ck..ck….!
Sekitar jam 14:30, rombongan cowok tiba dan langsung menyerbu makanan. Sambil menunggu para cowok membersihkan diri, aku, Keke dan Hany berfoto-foto terakhir dengan teman-teman Baduy.
Setelah rapi dan menyelesaikan transaksi baik dengan pihak warung makan maupun pihak teman-teman Baduy yang menjadi porter sekaligus guide perjalanan ini, kami saling bersalaman dan berpamitan karena supir dan kondektur angkotan Elf berkali-kali mengingatkan kami agar lekas berangkat. *ih gak sabar banget siy, gantian dwonk kemaren kan kita yang kudu nunggu lebih dari 1 jam *
Akhirnya, jam 15:15 kami bergerak meninggalkan Ciboleger dengan sejuta kenangan.
Sampai di Rangkas Bitung jam 16:50, sedangkan kereta dijadwalkan berangkat jam 17:00. Namun saat itu tidak ada satu gerbongpun di stasiun sedangkan penumpang sudah membludak. Akhirnya, lagi-lagi demi keamanan dan kenyaman kami memilih pulang ke Jakarta menggunakan bis. Maka meluncurlah kami ke Terminal Bis Rangkas Bitung (Mandala) dengan menggunakan angkot dan membayar Rp. 2.000,- per orang.
Ketika tiba di Terminal Mandala, bis jurusan Kalideres bertarif Rp. 12.000,- per orang langsung kami naiki. Sepanjang perjalanan aku menahan lapar karena tadi siang tidak sempat makan. Maka begitu tiba di Terminal Bis Kalideres, sekitar jam 20:00 kami langsung menyerbu rumah makan dan aku menyantap soto ayam yang rasanya enaaaaak sekalee. *pasti karena lapar :p*.
Jam 20:00 kami menuju halte busway dan memilih duduk di deretan paling belakang. Hany turun lebih dulu di halte Grogol, Kadek dan Yadi turun di Sawah Besar karena harus berganti busway ke jurusan Blok M, sedangkan aku, Keke dan Andreas keluar di halte Pecenongan dan berganti ke jurusan Pulogadung, dan aku tiba di rumah sekitar jam 21:30.
*************************************************************************************************
Rombongan ini memang sangat kecil tapi lengkap, maka bisa dinamakan
“Bhineka Tunggal Ika”.
Kenapa???
Karena selain anggota rombongan ini terdiri dari berbagai suku & ras juga mewakili penganut agama-agama di Indonesia seperti: Islam, Katholik, Protestan, Budha dan Hindu, ditambah lagi agama yang dianut teman-teman Baduy (puputan).
Namun perbedaan itu tidak menjadi hambatan bagi kami untuk bersama-sama menikmati perjalanan yang tidak terlupakan ini.
Ucapan terima kasih kepada:
1. Andreas Adoe, yang punya gagasan dan mengajakku menikmati petualangan ini, yang parno aku tidak jadi ikut, yang suka banget gangguin aku.
2. Kadek, yang bernama Bali tapi tidak bertampang Bali sama sekali, yang namanya digemari teman-teman Baduy karena mempunyai makna tersendiri di Baduy, yang dari awal trekking telanjang kaki supaya menyatu dengan alam Baduy.
3. Yadi, yang sebenarnya baik tapi suka terpengaruh jadi jahil karena Andreas, yang tidak mau menghamburkan film untuk mengambil foto teman-teman seperjalanan. L
4. Keke, yang selain gape membidik kamera ternyata juga pelor.
5. Hany, yang tabah melakukan perjalanan ini dan cepat akrab dengan ‘seseorang’, ehem… ;)
6. Teman-teman Baduy: Jasrip, Aldi, Naldi, Sapri dan Pak Karta.
Kalian memang tidak bisa membaca catatan perjalanan ini tapi aku yakin kalian memiliki perasaan yang sama dengan kami, sangat menikmati perjalanan ini.
Semoga kita bisa bertemu dan berjalan bersama lagi di lain waktu.
Oleh : Ajenk
Petualangan ke Jembatan Akar–Batara (Baduy Luar) 11 – 12 Maret 2006
sumber : http://jelajahnusa.multiply.com/journal/item/13











