Obviously fun for outdoor activities

NATREKK

Home Artikel Kutipan Panduan Bagi Trekker Mandiri

Panduan Bagi Trekker Mandiri

E-mail Print PDF

Peta panduan trekking tentang kawasan Puncak ini merupakan peta trekking terlengkap pertama di Indonesia. Ingin membawa anak 'terjun' belajar mengenal alam? Anda bisa membawa mereka trekking di Puncak. Sebut saja, Anda bisa memilih rute Gegerbentang dengan panjang lintasan 6 km.


'Rute ini mudah untuk navigasi dan tidak begitu berat terkecuali satu tanjakan terjal, sehingga cocok buat pemula,' begitu saran yang diberikan Puncak Trek Guidebook: Cipanas. Berbekal buku panduan yang melengkapi peta dari Puncak Trek Series Cipanas, Anda pun bisa menyusuri jalan yang bisa dilewati para petani lokal dengan risiko tersesat yang amat kecil. Empat peta trekking dan empat buku panduan untuk daerah kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango --Ciawi, Cisarua, Cipanas, dan Cugenang-- diluncurkan sekaligus pada 10 Maret lalu di LIPI, Jakarta. Bahan-bahan ini memang dirancang untuk mendukung kegiatan trekking secara mandiri.


Delapan tahun
Pembuatan peta trekking berawal dari gagasan Alex Korns, warga AS yang tinggal di Jakarta yang amat suka menjelajahi kawasan Gunung Gede di akhir pekan. Ia mengalami kesulitan mencari titik penyeberangan lembah yang memisahkan punggungan. ''Mencari titik itu kembali, tidak gampang diingat,'' katanya.

Pengalaman Alex pada tahun 1991 itu menjadi dasar idenya tentang suatu peta rute trekking. Bersama beberapa mahasiswa dan alumnus jurusan Geografi Fakultas MIPA Universitas Indonesia, lima tahun berikutnya Alex empat kali mengelilingi dua gunung itu, mencari rute yang paling menarik. Butuh waktu delapan tahun sampai akhirnya mereka bisa menghasilkan empat peta trekking ini.

Berkat bantuan dana dari lembaga-lembaga asing antara lain USAID dan Ford Foundation peta berikut buku panduan itu bisa diterbitkan. ''Saya baru hari ini melihat ada peta trekking di Indonesia,'' kata Alex pada peluncuran Puncak Trek Map Series. Peta dan buku panduan itu meliputi kawasan B, C, D, E. Yakni, di atas Pasar Ciawi dan Pasar Cisarua, di Kabupaten Bogor dan diatas Pasar Cipanas dan Pasar Cugenang di Kabupaten Cianjur.

Masing-masing peta menawarkan empat rute trek. Untuk Cisarua, misalnya, ditawarkan rute Citeko (8,9 km), Rute Sampai (6,9 km), Mandalawangi (11,1 km), dan Rute Gunung Gedogan (9,3 km). Rute-rute itu cocok untuk perjalanan setengah hingga satu hari penuh.

Setiap peta meliputi kawasan sekitar 7x7 km menggambarkan secara cukup detail permukaan tanahnya, dengan skala 1: 16.667. Alex dan para mahasiswa --yang bersama mahasiswa Geodesi di Universitas Pakuan, Bogor, dan Universitas Gunadarma di Depok sejak 2003 membentuk LSM Wahana Informasi Pariwisata Alam (WIPA), bermarkas di Bogor-- membubuhkan berbagai informasi lapangan pada peta. Mulai dari keberadaan air terjun, objek budaya dan sejarah yang menarik, sekolah, warung, bahkan warung bakso, serta pemandangan yang menarik hingga tempat menyaksikan satwa liar.


Tak harus puncak
Buku panduan ukuran saku setebal 120 halaman itu disajikan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Isinya menggambarkan sejarah dan geografis kampung, perkebunan, dan lokasi lain yang ada dalam peta. ''Peta ini memberi gambaran pengunjung di mana menikmati kehidupan satwa liar, lingkungan dan aktivitas desa, keindahan alam seperti air terjun dan banyak lagi,'' kata Andi Basuki dari WIPA.

Peta yang dicetak pada kertas tahan air itu juga dirancang untuk digunakan dengan peralatan navigasi sederhana seperti kompas dan altimeter atau dengan GPS (Global Positioning System). Dengan adanya peta ini, menurut Kepala Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Novianto Bambang Wawandono, untuk menikmati Gunung Gede dan Pangrango tak harus langsung menuju puncaknya. ''Di kaki gunung pun ada perjalanan yang menarik,'' katanya.

Dilihat dari ketelitiannya, peta dan panduan ini mendapat pujian dari kalangan geografer. Kritik kecil hanya ditujukan pada masalah teknis seperti warna dan tipologi huruf. Ketika disinggung tentang kemungkinan pemanfaatan peta ini untuk kegiatan yang merusak alam, Imam Wahyudi tak menjawabnya secara langsung. Ia cenderung percaya peta ini bagian dari pendidikan. ''Semakin tinggi pendidikan, semakin tahu batas hutan, desa, dan perkebunan. Selama ini, karena tidak tahu, mereka masuk sembarangan, '' ujar dia.

Peta yang tahan robek berikut bukunya, menurut Manajer WIPA, Budianto, dicetak masing-masing 2.200 eksemplar. Selain bisa diperoleh secara paket dengan harga Rp 500.000, peta dan buku panduannya bisa dibeli satuan seharga Rp 130.000. Kini, jelas Budi, WIPA tengah mempersiapkan untuk menuntaskan peta keseluruhan sektor. Yakni, sektor A, F, G, dan H. ''Sekarang 80 persen sudah jalan, tinggal formalisasi, '' ungkapnya. (poy )

Temen2, kalo ada yg berminat dg Peta & Buku ini, bisa menghubungi Imam Wahyudi di 08129726620. Thx sebelumnya..

 

source : Harian Republika, 18 Maret 2007

 

 

 

Last Updated ( Friday, 19 March 2010 10:57 )  

NEXT EVENT

NATREKK on Facebook

NATREKK on TWITTER

  • Natrekk Media

  • Galeri

 

We Are ... We Are ... We Are ... We Are ... We Are ... We Are ...

Weather